Di tengah perkembangan gaya hidup masyarakat dan social media yang berkembang pesat, akses terhadap informasi tren fashion, kuliner, traveling semakin mudah dan menjadi bagian dari keseharian. Media sosial juga turut mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap gaya hidup, termasuk keinginan untuk mengikuti tren terbaru agar tetap terlihat stylish dan percaya diri. Tidak heran jika kita temukan kelas menengah yang mulai naik kelas dengan gadget terbaru, koleksi fashion premium, dan berbagai trend wishlist.
Gaya hidup premium sudah sangat lazim kita temukan di kota besar dengan pola konsumsi yang mengutamakan kualitas, kenyamanan eksklusif, dan prestise. Hal ini tentunya menuntut alokasi pengeluaran yang besar untuk dapat membeli barang bermerk, pengalaman bersantap premium, keanggotaan club, dan layanan personal. Bagi para pekerja, menikmati hasil kerja untuk fasilitas premium seolah menjadi sebuah self reward. Namun, perlu adanya keseimbangan pemenuhan gaya hidup dan pengelolaan keuangan yang tepat agar tidak mengganggu stabilitas finansial. Jika gaya hidup sudah meningkat, bagaimana seharusnya pengelolaan keuangan yang tepat?
Gaya Hidup Sultan Tapi Tetap Terkontrol, Apa Mungkin?
Keinginan untuk memiliki gaya hidup premium tentunya menjadi idaman untuk dapat naik kelas. Di tengah fluktuasi ekonomi saat ini, gaya hidup masyarakat mulai bergeser menjadi kurasi nilai, kualitas, dan keberlanjutan. Sehingga, kalangan mapan dan kelas menengah tetap menikmati gaya hidup dan pengalaman eksklusif yang dipersonalisasi serta efisiensi pengeluaran dan alokasi investasi yang tepat sasaran.
Untuk mengelola gaya hidup premium secara strategis tanpa terjebak pemborosan, beberapa tips yang dapat Anda terapkan:
- Anggaran berbasis prosentase dan Alokasi Keuangan (metode 50/30/20)Misalnya kamu memiliki pendapatan sebesar Rp10.000.000,- per bulan. Dari jumlah tersebut, sebesar 50% atau Rp5.000.000 kamu alokasikan untuk kebutuhan primer seperti biaya makan, sewa rumah, listrik, internet, transportasi, serta tagihan bulanan lainnya. Selanjutnya, 30% atau Rp3.000.000 digunakan untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan gaya hidup. Dana ini bisa kamu manfaatkan untuk membeli gadget impian dan hang out bersama teman-teman. Sementara itu, 20% atau Rp2.000.000 dialokasikan untuk tabungan dan investasi masa depan yang lebih aman. Dana ini bisa kamu alokasikan untuk dana darurat, investasi reksadana, emas atau persiapan masa pensiun. Nah kamu bisa memisahkan keuangan kamu menggunakan fitur Saku Bujet sesuai dengan kebutuhan. Saku Bujet Bank Raya bisa dibuat hingga 10 saku, sehingga pengeluaran setiap bulan kamu dapat terkendali.
- Alternatif Bijak untuk Berhemat
Kebiasaan kamu membeli kopi di kafe, memesan makanan online, dan berbelanja secara impulsif sering kali membuat pengeluaran kamu menjadi tidak terkendali tanpa disadari. Untuk itu, diperlukan alternatif bijak untuk berhemat, seperti membuat kopi sendiri dengan biji kopi berkualitas dan investasi pada mini coffee maker di kantor, meal prep dengan makanan sehat tapi dengan bahan berkualitas jauh lebih hemat tapi tidak kalah berkelas dengan menu di restoran. Dengan kamu menerapkan kebiasaan yang lebih hemat dan terencana, keuangan kamu menjadi lebih stabil, kebutuhan utama tetap terpenuhi, dan tujuan keuangan di masa depan dapat tercapai dengan lebih baik. - Bedakan Reward dan Kebiasaan
Pengeluaran mahal yang dijadikan kebiasaan cenderung membebani. Sebaliknya, jika ditempatkan sebagai reward yang terencana, dampaknya jauh lebih terkendali. Kamu dapat memanfaatkan fitur Saku Pintar untuk set goals kamu. Saku Pintar dapat membantu kamu menabung secara otomatis setiap bulan untuk mencapai tujuan jangka pendek. Kamu dapat menyisihkan sebagian dari pendapatan sesuai kemampuan dan menyesuaikannya dengan jangka waktu yang telah ditentukan, misalnya untuk dana liburan, membeli gadget baru, atau kebutuhan pendidikan. Selain itu, kamu dapat mengaktifkan fitur auto debet agar proses menabung kamu berjalan otomatis setiap bulan tanpa khawatir lupa menyisihkan uang. - Fokus pada Kualitas Hidup, bukan Simbol dan ValidasiDaripada mengejar simbol status, gaya hidup premium yang terkontrol lebih menitikberatkan pada kenyamanan, efisiensi, dan pengalaman yang bernilai personal. Sehingga dapat mengurangi tekanan untuk selalu menaikkan standar hidup demi ekspektasi orang lain. Jika kamu sering membeli barang bermerek, nongkrong di tempat mahal, dan selalu tampil “kekinian” agar terlihat sukses di media sosial, kamu harus mengubah cara pandangnya dengan lebih fokus pada kualitas hidup dibanding simbol dan validasi dari orang lain.
Dengan pengelolaan keuangan yang tepat, Gaya hidup sultan tidak selalu identik dengan keuangan yang tidak sehat. Dengan penentuan kendali, dan menempatkan konsumsi sebagai pilihan sadar bukan sebagai dorongan sosial, maka kita akan bisa hidup secara lebih terukur dan sustainable.